Rincian Product

Judul : Namaku Nairem
Penulis : Tandi Skober
No ISBN : 978-602-98544-42
Kategori : Namaku Nairem
Cover : Soft Cover
Isi : 173
Ukuran : 14.5 x 21.5
Berat : 100 gr
Harga : Rp 28.000,00
Diskon : 0 %
Harga Netto : Rp 5.000,00

Namaku Nairem

 

Senja jatuh di belantara sejarah yang terluka. Aku tengadah. Dari titik terjauh, kulihat Marina bertasbih air mata mujahid. Rinduku berlari di lintasan angin. Ingin kukutipi teks-teks yang ia pahat tiap kali bertutur tentang luka-luka sejarah.

“Sesungguhnya, di sekitar 'Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya, yang di antaranya terdapat suatu kaum yang menggunakan pakaian cahaya,”tutur Marina,” Wajah mereka bercahaya dan mereka itu bukan Nabi, juga bukan para syuhada. Mereka adalah orang-orang yang saling menjalin cinta kasih karena Allah, saling bermajelis duduk memikirkan sesuatu karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah semata."

Aku usap batu nisan Marina,berbisik,"Atas ridha Allah SWT, insya Allah, satu di antara mereka yang berpakaian cahaya Surga itu adalah dirimu, Marina.”

-------------------

Ada sebuah nama yang tidak dicatat sejarah, tapi selalu membuat sejarah. Nama itu di era 1803-1818 menjadi saksi ketersiksaan ketika santri Cirebon bernama Nairem divonis mati pada September 1818. Nama yang tidak dicatat sejarah itu, juga sulit melupakan menit-menit terakhir eksekusi Kartosuwiryo di Onrust, Pulau Seribu, pada September 1962. Bahkan ketika 12 September 1984 terjadi tragedi Priok, ia juga berada di antara drum-drum berdarah yang berisikan mayat mujahid.

Nama itu adalah Marina yang mengaku keturunan keenam Nairem. Ia bersua Ketua Tim HAM Jakarta untuk meneliti apakah benar ada pelanggaran HAM dalam tragedi Priok, September 1984? Ia meyakini ada trauma berdarah di Indonesia. Ia ingin ungkap hal itu sebab ia tak ingin dicatat sebagai anak haram sejarah.

Marina menculik Tandi Skober untuk meyakinkan hal itu. Marina memaksa Tandi agar menulis tentang jihad fi sabillilah di berbagai media cetak. Marina juga menuliskan skenario film tentang pelanggaran HAM trauma Priok 1984. Ia paparkan secara detail perjuangan jihad Nairem 1818. Ini membuat Indonesia terperangah, meski dalam titik terjauh paparannya menjadi kerikil tajam di sepatu komunitas tertentu.

Di sini, Marina memosisikan diri di tepi ketajaman narasi sejarah yang tak terungkap. Toh, Marina berusaha mengungkap fakta dari sebuah ruang yang gelap. Ia terperangkap deret derita, tapi ia wanita pemberani seperti kakek buyutnya, Nairem.

Berhasilkah Marina membukanya? 

 


FACEBOOK

TWITTER