Mengenal Perbedaan Madzhab Hambali dan Salafi Kontemporer

Mengenal Perbedaan madzhab Hambali dan Salafi Kontemporer

Buku ini menguraikan perbedaan antara pendapat Madzhab Hambali yang benar sesuai jumhur ulama Ahlussunah wal Jam’ah dan Salafi Kontemporer.
KAMIS, 31 MEI 2018
Antara Madzhab Hambali Dengan Salafi Kontemporer
Antara Madzhab Hambali Dengan Salafi Kontemporer (Buku ini hadir sebagai sumbangsih keilmuan, dengan semangat untuk meluruskan kekeliruan berdasarkan riset ilmiah, bukan untuk memantik kebencian dan konflik yang sangat tidak diinginkan. Sebagai bahan bacaan dankajian, buku ini penting untuk Anda miliki !)

Buku ini menguraikan perbedaan antara pendapat Madzhab Hambali yang benar sesuai jumhur ulama Ahlussunah wal Jam’ah dan Salafi Kontemporer. Salafi adalah kelompok masa kini yang menisbatkan dirinya pada generasi salaf, sedangkan masa generasi salaf sesungguhnya sudah berakhir setelah abad ketiga Hijriyah.

Mengapa penulis mengupas perbedaan antara pendapat Madzhab Hambali dan Salafi Kontemporer? Menurut penulis, hal itu penting karena kelompok yang menamakan dirinya Salafi (Salafi Kontemporer) itu mengatakan mereka menjadikan Madzhab Hambali sebagai rujukan. Namun, pada kenyataannya berseberangan dengan pendapat Imam Ahmad bin Hambal dan para ulama Hanabilah lainnya.

Masalah-masalah penting dalam bidang akidah, fikih, dan tasawuf menjadi objek pokok dalam pembahasan buku ini. Pembaca akan diajak untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya perbedaan antara Madzhab Hambali dan Salafi Kontemporer terkait tiga bidang tersebut, dan menilainya secara proporsional.

Secara keseluruhan, penulis membagi bukunya menjadi empat pasal. Dimulai dengan pasal pertama, mengenal sosok Imam Ahmad dan Madzhab Hambali. Termasuk didalamnya kedudukan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah (661-728) dalam Madzhab Hambali, dan ulama hanabilah menolak paham Salafi Kontemporer.

Pasal kedua membandingkan antara aqidah Hanabilah dan aqidah Salafi Kontemporer. Termasuk di dalamnya pembahasan tentang taqlid dalam masalah aqidah, hokum mempelajari Ilmu Kalam, dan hokum mengafirkan kaum MUslimin. Juga, beberapa kelompok dan madzhab yang dianggap keluar dari Ahlussunnah wal Jama’ah; antara Asy’ariyah dan Hanabilah; takwidh, takwil dan tanzi; riwayat daif dan wahin; kefanaan neraka; mohon bantuan kepada selain Allah; serta kedua orangtua Rasulullah masuk surge atau masuk neraka.

Pada pasal ketiga, penulis membahas ushul fiqh Madzhab Ahmad bin Hambal. Termasuk didalamnya, anjuran bertakid dalam pandangan Imam Ahmad; pengertian dan pembagian bid’ah; masalah-masalah fikih yang menjadi perdebatan antara kaum Salafi Kontemporer dan para ulama Madzhab Hambali; dan seputar masalah berpakaian.


KOMENTAR
ajxload

KIRIM KOMENTAR
FACEBOOK

TWITTER