Pendidikan Islam

Pentingnya pendidikan

Sebaik-baik kurun adalah kurunku, kata Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Kemudian kurun setelahnya. Lalu kurun setelahnya
SENIN, 20 MEI 2013
Pendidikan
Pendidikan (terpaksabikinwebsite.wordpress.com)

“Sebaik-baik kurun adalah kurunku”, kata Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Kemudian kurun setelahnya. Lalu kurun setelahnya.”

Tiga abad pertama Hijriyah (kurang lebih 600-900 M) adalah kurun-kurun yang dimaksud sabda beliau ini. Allahu wa Rasuluhu a’lam. Ketiga abad tersebut dibuka dengan bermulanya kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam (610 M) dan ditutup dengan berakhirnya hayat Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah (855 M). Selanjutnya, kualitas umat kian menurun, terus dan terus berkurang, nyaris di segala sektor kehidupan. Hingga pada zaman sekarang (abad ke-15 Hijriyah), seolah-olah kualitas itu terjun bebas. Berbanding terbalik dengan kuantitasnya yang dari hari ke hari selalu meningkat.

Amir Syakib Arslan menyimpulkan kemunduran umat Islam diakibatkan mereka meninggalkan agama mereka sendiri. Sedangkan kemajuan umat lain justru disebabkan mereka meninggalkan agama mereka.

Di kalangan ulama, ilmu agama yang sejatinya adalah keyakinan dan amal bergeser menjadi sekadar bahan perdebatan dan polemik. Ilmu-ilmu praktis dan ilmu-ilmu pengetahuan alam yang tadinya merupakan favorit kian berkurang popularitasnya; digeser oleh ilmu-ilmu khayalan dan ilmu-ilmu filsafat yang semuanya tidak lain hanyalah teori belaka. Para ulama pun gemar mendekati pemerintah untuk menikmati cipratan dunia, sehingga tidak lagi berwibawa apalagi berfungsi sebagai kontrol atas pemerintahan.

Di jajaran pemerintah sendiri, para pejabat tidak lagi amanah. Moral mereka rusak karena tenggelam oleh aneka kenikmatan duniawi berkat posisi yang mereka tempati dan kursi yang mereka duduki.

Di tengah masyarakat biasa, komitmen pada nilai-nilai keislaman meluntur, seiring dengan masuknya pengaruh asing lewat interaksi kebudayaan yang kian semarak, ditambah lagi akibat kehilangan panutan ulama dan kehilangan percayaan pada pemimpin umat. Tak ayal, mereka silau oleh kemajuan umat lain yang menyusul dan jauh meninggalkan mereka di belakang, sehingga sudi menirunya dan menelan bulat-bulat segala hidangan budaya asing yang disajikan di depan mata.

Bagaimanapun, kondisi umat yang terpuruk ini tidak boleh disikapi dengan putus asa. Sebab, hanyalah kaum kafir yang berputus asa dari rahmat Allah. Jika Allah berkehendak, umat Islam bisa kembali jaya seperti sedia kala. Tentu saja kejayaan itu tidak akan muncul secara tiba-tiba seperti sulap ataupun mukjizat. Kerja keras dan usaha optimal adalah sunnatullah yang harus digenapi, sebagaimana tercatat dalam lembaran sejarah setiap umat, terutama sejarah tiga kurun terbaik tadi. Dan, semua orang yang mencermati sejarah tentu menyimpulkan semuanya bermula dari pendidikan. Tidak lain dan tidak bukan.(Fedrian Hasmand)

 


KOMENTAR
ajxload

KIRIM KOMENTAR
FACEBOOK

TWITTER