Hidup ini hanya tiga hari

Hidup di hari ini (1)

Hidup ini hanya tiga hari: kemarin, besok, dan hari ini. Kemarin telah berlalu dan tidak akan pernah kembali.
SENIN, 17 NOVEMBER 2014
Pilihan hidup
Pilihan hidup (smeadvisor.com)

Hidup ini hanya tiga hari: kemarin, besok, dan hari ini.

Kemarin telah berlalu dan tidak akan pernah kembali.

Besok masih samar dan belum tentu akan kita alami.

Hari ini adalah anugerah nyata dari Allah yang sedang kita nikmati.

Maka, hiduplah di hari ini. Jangan hidup di hari kemarin ataupun di esok hari.

Jangan hidup di hari kemarin, karena itu percuma. Orang yang hidup di hari kemarin kerjanya cuma meratapi dosa-dosa masa lalu, sehingga pembawaannya murung dan tidak bersemangat. Atau sebaliknya, orang yang hidup di hari kemarin suka membangga-banggakan amal masa lalunya, sehingga kerjanya hanya mengungkit-ungkit jasa atau kerjanya dahulu kala. Salah-salah, amal salehnya malah terhapus sia-sia.

Atau, orang yang hidup di hari kemarin hanya gemar bernostalgia dengan romantisme sejarah kejayaan masa silam, tanpa berupaya menjadikan masa kini lebih berjaya.

Atau, tidak kalah parahnya, orang yang hidup di hari kemarin malah terpaku dengan masa lalu, jumud alias stagnan, sehingga tidak mau maju dan menolak berkembang seiring dengan perubahan zaman.

Jangan pula hidup di hari esok, karena itu tidak produktif. Orang yang hidup di hari esok kerjanya hanya pandai berencana, tidak pandai bekerja.

Atau, orang yang hidup di hari esok panjang angan-angannya, sehingga suka menunda-nunda pekerjaan, karena merasa kematiannya masih jauh dan hidupnya masih lama.

Atau, orang yang hidup di hari esok suka meramalkan keburukan masa depan, huru-hara akhir zaman, dan malah memusingkan hal-hal mengerikan yang belum tentu terjadi padanya. Alhasil, ia cenderung penakut, pesimis, pasif, negatif, pasrah, dan akhirnya menjadi orang yang tidak berguna.

Atau, orang yang hidup di hari esok cenderung tergesa-gesa, tidak sabar, tidak suka melangkah secara bertahap, maunya melompat langsung ke tujuan. Akibatnya, ia memilih cara ekstrim dan instan. Ia merasa dirinya militan, padahal sesungguhnya karbitan. Ia meyakini ada jalan pintas, padahal itu jalan buntu yang ditunjuki oleh setan. Ia merasa berbuat sebaik-baiknya, padahal justru kerusakan. Ia pun merasa paling benar, padahal ia sedang tenggelam dilamun ombak kesesatan. (Fedrian H - editor)


KOMENTAR
ajxload

KIRIM KOMENTAR
FACEBOOK

TWITTER