Belajar Sabar

Sabar dan Syukur

Untuk menghadapi kesusahan, kita diperintahkan Allah untuk bersabar. Sedangkan untuk menghadapi kesenangan, kita diperintahkan-Nya untuk bersyukur
JUM'AT, 10 MEI 2013
Ekspresi Sabar
Ekspresi Sabar (tanbihun.com)

Segala sesuatu dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala berpasangan. Semuanya, tanpa terkecuali. Ada malam ada siang. Ada matahari ada bulan. Ada daratan ada lautan. Ada laki-laki ada perempuan. Ada suami ada istri. Ada kanan ada kiri. Ada malaikat ada setan. Ada langit ada bumi. Ada Al-Qur`an ada As-Sunnah. Dan sebagainya. Inilah sunnatullah.

Kehidupan ini pun mengandung sepasang hal yang pasti dihadapi seluruh makhluk hidup: kesenangan dan kesusahan. Tiada satu pun makhluk yang tidak mengalami keduanya. Sejak detik pertama si makhluk dihidupkan hingga kelak ia dimatikan.

Maka, untuk menghadapi kesusahan, kita diperintahkan Allah untuk bersabar. Sedangkan untuk menghadapi kesenangan, kita diperintahkan-Nya untuk bersyukur. Demikianlah Allah menjadikan sabar dan syukur sebagai pasangan solusi agar kita sukses menjalani kehidupan. Namun, adalah mudah sekadar mengucapkan kata ‘sabar’ atau ‘syukur’. Yang sulit itu mempraktikkan kedua-duanya.

Kata ‘sabar’ diserap dari kata bahasa Arab (ash-shabr). Artinya bukanlah kompetensi untuk tahan marah atau tidak lekas naik darah. Kalau itu sebutannya adalah al-hilm, bukan ash-shabr. Sabar yang dimaksud adalah patient (tahan banting, tahan menderita) sekaligus persistence (ketekunan, kegigihan, keuletan). Slogan ‘maju terus pantang mundur’ tampaknya paling sepadan untuk menggambarkan kata ‘sabar’ ini. Orang yang diberi Allah taufik untuk bersabar pasti bisa melalui kesusahan dalam hidup ini dengan selamat sekaligus mengakhirinya, bak peribahasa: ‘Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian’.

Sementara arti kata ‘syukur’ yang juga serapan dari kata bahasa Arab (asy-syukr) tidaklah sesederhana ucapan ‘terima kasih’ atau ‘alhamdulillah’ semata. Lebih dari itu, maknanya adalah membalas kebaikan dengan kebaikan pula. Orang yang diberi Allah kesenangan hidup hendaklah membalas kebaikan-Nya dengan cara mempergunakan kenikmatan itu dengan baik dan benar.

Kendati nuansanya senang-senang, ternyata syukur jauh lebih sulit daripada sabar. Buktinya, kita lihat di lingkungan sekitar, sedikit sekali orang yang bersyukur jika dibandingkan dengan orang yang bersabar. Contoh, ketika melarat seseorang bisa bersabar, namun ketika sudah banyak uang ia tidak bersyukur, pelitnya bukan main. Contoh lain, jamak mahasiswa yang dulu kerap mendemo pemerintah, tetapi ketika para aktivis itu sudah menjadi pejabat mereka lupa daratan dan malah menyalahgunakan jabatan, sehingga kini giliran mereka yang didemo mahasiswa dan diincar KPK. Contoh lainnya, banyak orang yang punya fisik sempurna dan sehat justru menyalahgunakannya untuk bermaksiat. Tatkala jatuh sakit atau menjadi cacat, barulah mereka bertekad untuk taubat, tetapi tak jarang sudah terlambat.


KOMENTAR
ajxload

KIRIM KOMENTAR
FACEBOOK

TWITTER