Cukuplah keluarga menjadi contoh

Hidup di hari ini (3)

Orang yang hidup di hari kemarin cenderung takut tanpa alasan
RABU, 3 DESEMBER 2014
Pilihan hidup
Pilihan hidup (google)

Orang yang “hidup di hari ini” pasti memperlakukan semua orang lain di sekitarnya yang ia temui hari ini dengan sebaik-baiknya, terutama keluarganya sendiri. Cukuplah keluarga menjadi contoh, karena orang yang tidak memperlakukan keluarganya dengan baik tidak usah diharapkan memperlakukan orang lain dengan baik pula.

Orang yang “hidup di hari ini”, jika bertemu dengan keluarganya, pastilah ia memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Ia bersyukur bisa bertemu dengan keluarganya, karena baginya itu adalah suatu nikmat, suatu karunia, suatu anugerah. Ia ingat suatu masa ketika ia sekian lama tidak bisa bertemu dengan keluarganya; mungkin karena pekerjaan, pendidikan, musibah, dan sebagainya, betapa ia menderita menanggung rindu. Ia juga sadar bahwa di esok hari belum tentu ia bertemu lagi dengan keluarganya, karena bisa jadi akan ada halangan, seperti pekerjaan, pendidikan, musibah, dan sebagainya. Berkat keinsafan dan kesadaran itulah, ia memperlakukan keluarganya hari ini dengan sebaik-baiknya. Memang, orang yang “hidup di hari ini” adalah orang yang selalu penuh insaf dan sadar.

Sedangkan orang yang “hidup di hari esok”, jika bertemu dengan keluarganya, menganggap pertemuan itu hanya rutinitas yang akan terus terjadi, esok, lusa, dan seterusnya, sehingga ia memperlakukan mereka dengan masa bodoh, karena kebersamaan dengan mereka dianggapnya sebagai suatu hal biasa, bukan anugerah.

Lebih parah lagi, orang yang “hidup di hari esok” tidak segan-segan berlaku kasar terhadap keluarganya, atau bahkan menelantarkannya, saking ia tidak menganggap keluarganya sebagai sesuatu yang berharga. Ia malah terus berangan-angan kosong suatu waktu akan mendapat keluarga baru yang menurutnya “lebih baik” atau “ideal” di masa depan. Memang, orang yang “hidup di hari esok” cenderung panjang angan-angan.

Sementara orang yang “hidup di hari kemarin”, jika bertemu dengan keluarganya, yang terlintas dalam benaknya hanyalah keburukan, kesalahan, pertengkaran, dan hal-hal negatif yang pernah ia alami bersama keluarganya, sehingga ia memperlakukan mereka dengan dingin, dengan rasa dendam, dengan rasa tidak percaya, atau dengan rasa khawatir jangan-jangan pengalaman buruk masa lalu terulang kembali.

Atau, yang terlintas dalam benak orang yang “hidup di hari kemarin” hanyalah kegemilangan masa lalu yang di matanya tampak lebih gemerlap daripada masa kini. Ia lantas suka membanding-bandingkan, “Dahulu begitu, kok sekarang begini”. Akibatnya, ia memperlakukan keluarganya dengan rasa kecewa, dengan pandangan meremehkan, dan dengan rasa malu yang tidak pada tempatnya, bahkan dengan tuntutan-tuntutan yang membebani keluarganya secara fisik sekaligus psikis. Lebih aneh lagi, tidak hanya kegemilangan masa lalu, justru keterpurukan masa lalu juga membuat orang yang “hidup di hari kemarin” memperlakukan keluarganya dengan tuntutan-tuntutan serupa. Masa lalunya yang miskin dan melarat malah membuatnya sekarang, ketika sudah kaya raya, terlalu khawatir jangan sampai anak cucunya mengalami kemalangan serupa. Akibatnya, stress bahkan depresi harus ditanggung oleh anak cucunya yang tidak kuat memenuhi tuntutan gila yang harus mereka akrabi sejak usia dini, padahal hidup mereka berkelimpahan. Memang, orang yang “hidup di hari kemarin” cenderung takut tanpa alasan. (Fedrian H - editor)


KOMENTAR
ajxload

KIRIM KOMENTAR
FACEBOOK

TWITTER