Hikmah Puasa

Puasa yang berumur panjang

Tidak ada yang baru dalam puasa. Ia hanya pengulangan-pengulangan seperti yang telah kita kerjakan tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya
KAMIS, 2 AGUSTUS 2012
Hikmah Ramadhan
Hikmah Ramadhan (static.republika.co.id)

Tidak ada yang baru dalam puasa. Ia hanya pengulangan-pengulangan seperti yang telah kita kerjakan tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Usia puasa itu seusia agama-agama di bumi. Allah berfirman, Kama Kutiba, ”Seperti yang sudah pernah diwajibkan pada umat sebelum kamu.” 

Yang harus diperbaharui dan diluruskan adalah niat. ”Untuk apa dan siapa saya berpuasa?” Niat yang tulus karena Allah itu harus selalu hadir di awal puasa, di pertengahan puasa bahkan di ujung puasa. Sebab tak sedikit yang bisa menghadirkan ikhlas di awal puasa tapi tak kuat di ujung bulan puasa. Akhirnya, seperti yang kita sering saksikan, puasa baru beberapa hari, sudah banyak yang secara demonstratif makan dan minum di ruang-ruang terbuka, bahkan yang lebih para mengenakan atribut takwanya; kopiah, koko, sarung, tapi sembari menghisap rokok. Pemandangan seperti ini banyak kita temukan di berbagai tempat terutama di pasar-pasar dan terminal, walaupun pada hari-hari pertama kita juga sering melihat deretan kaki orang-orang tanpa kepala yang makan di warung-warung tenda pinggir jalan. Tidak terlalu jelas.

Barangkali, salah satu sebabnya lemahnya membangun niat dan tekad. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya Fi rihabi sunnah (Dalam Pangkuan Sunnah) menyebutkan lima cara kerja niat pada sebuah amal (termasuk puasa); Pertama; menjadikan hal-hal mubah dan biasa bernilai ibadah dan pendekatan diri pada Allah. Kedua; Melengkapi amal yang kurang. Ketiga; Mendapatkan pahala walaupun amal itu tidak direalisasikan karena sebuah uzur. Keempat; Membenarkan amal yang keliru. Kelima: Menjadikan amal kecil berpahala besar. 

Untuk tema puasa, hadits yang acapkali kita dengar adalah, ”Man shama ramadhana imanan wa ihtisaaban” sebenarnya hendak mengajak orang-orang beriman untuk memeriksa kembali niatnya dengan teliti, apakah ia berpuasa karena iman dan mengharap pahala atau mencari pujian manusia?

Senyum, memberi sekerat kurma atau menghilangkan kotoran di jalanan adalah amal sederhana. Tapi, akan menjadi ibadah besar jika niatnya besar. Puasa merupakan ibadah besar yang berpahala besar dan membutuhkan niat yang besar. Tapi juga, ia akan hanya menjadi ibadah kecil jika niatnya kecil. Hanya niat yang kuatlah yang akan menjadikan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan ini, seperti taraweh, shalat berjama’ah, tadarrus bahkan puasa itu sendiri berumur panjang, sampai di akhir bulan.

Menarik, sebuah ungkapan peringatan yang pernah dikatakan ulama salaf, Ibnu Mubarak, ”Rubba amalin shagirin tuadzhimu niyyah wa rubba amalin kabirin tushaggiruhu niyyah, ”Betapa banyak amal kecil yang menjadi besar hanya gara-gara niatnya, dan sebaliknya betapa banyak amal besar menjadi kecil juga hanya gara-gara  niatnya.”

Akhirnya, semoga Allah selalu membimbing kita untuk terus melakukan ibadah shaum dengan segenap ibadah yang merangkainya, dengan terus menguatkan niat ikhlas sampai di ujung bulan Ramadhan. Amin. 

(Muhamad Yasir, Lc)


KOMENTAR
ajxload

KIRIM KOMENTAR
FACEBOOK

TWITTER