Gemar Mengaji

Sahabat Nabi Gemar Membaca Al-Quran

Bacalah olehmu Al Quran, karena Al Quran akan datang pada hari kiamat pada pembacanya dengan membawa syafaat
RABU, 1 JULI 2015
Membaca Quran
Membaca Quran (internet)

“Peliharalah Al-Qur’an. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, sesungguhnya hafalan Al Quran itu lebih cepat lepasnya dari pada lepasnya onta dari ikatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
 
Di antara kebiasaan Rasulullah saw adalah menyuruh sahabat-sahabatnya membaca Al Qur’an dengan baik. Biasanya beliau membacakan kepada mereka atau menyuruh mereka membacakannya di depan beliau. Berkata Ibnu Mas’ud, “Aku mendengar langsung dari mulut Rasulullah saw tujuh puluh surat Al Qur’an.”
 
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw pernah berkata kepada Ibnu Mas’ud, di mana saat itu Rasulullah saw sedang di atas mimbar, “Bacakanlah kepadaku Al Qur’an!” Ibnu Mas’ud berkata, “Pantaskah aku membacakan untukmu, sedangkan Al Qur’an diturunkan kepadamu?!” Rasulullah saw menjawab, “Sungguh aku senang mendengarnya dari orang lain.” Lalu Ibnu Mas’ud pun membacakan surat An Nisaa hingga ayat yang berbunyi: “Maka Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (QS. An Nisaa : 41). Beliau bersabda, “Cukup... Cukup!.” Ketika aku menoleh, kata Ibnu Mas’ud, “Aku melihat air mata beliau bercucuran.”
 
Rasulullah saw benar-benar menekankan kaum muslimin untuk memahami Al Qur’an. Beliau mengutamakan kedudukan sebagian mereka atas sebagian yang lain dari kemampuannya menguasai Al Qur’an. Beliau bersabda: “Yang berhak menjadi Imam atas kaumnya adalah orang yang paling (mahir) membaca Al Qur’an di antara mereka”.
 
Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah bercerita, “Rasulullah saw pernah memberangkatkan suatu pasukan untuk menyerang musuh. Beliau meminta mereka untuk membekali diri dengan bacaan Al Qur’an. Beliau pun meminta masing-masing membacakan apa yang dihafalkannya. Tiba-tiba beliau menghampiri seorang di antara mereka yang paling muda usianya seraya berkata, ‘Apa saja yang kalu hafal, hai Fulan?!’ ‘Saya hafal surat ini, surat itu, dan surat Al Baqarah’ jawabnya. ‘Kamu hafal surat Al Baqarah?! Rasulullah bertanya lagi. Anak muda itu berkata, ‘Benar’. Rasulullah saw pun bersabda: “Berangkatlah dan kamu yang menjadi pemimpin mereka.”
 
Pantaslah anak muda itu mendapatkan penghargaan diangkat sebagai komandan pasukan. Sebab dengan kemampuannya menghafalkan surat Al Baqarah, surat terpanjang dalam Al Qur’an (yakni 286 ayat dan lebih dari 2 juz) ia patut mendapatkan acungan jempol. Lebih dari itu, surat Al Baqarah rupanya punya kedudukan tersendiri dalam pandangan Rasulullah saw.
 
Beliau saw bersabda: “Bacalah olehmu Al Qur’an, karena Al Qur’an akan datang pada hari kiamat pada pembacanya dengan membawa syafaat. Bacalah Az Zahrawain, yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran, karena kedua-duanya datang pada hari kiamat seolah-olah menjadi dua tumpuk awan yang menaungi pembacanya atau menjadi dua burung yang sedang terbang lalu datang hendak membela pembacanya. Bacalah surat Al Baqarah karena mengambilnya adalah berkah, sedang meninggalkannya adalah suatu penyesalan dan tidak dapat dilakukan oleh orang yang kosong dari ibadah. Muawiyah bin Salam mengatakan; ‘Menurut kabar yang sampai kepadaku, orang yang kosong dari amal ibadah adalah tukang-tukang sihir’.” (HR. Muslim)
 
Orang yang membaca Al Qur’an hendaknya dalam keadaan khusyu’, merenungkan makna-maknanya dan penuh ketundukan, karena memang demikian cara yang diperintahkan. Ia dianjurkan menangis atau pura-pura menangis kalau tidak bisa menangis. Disunnahkan pula meneladani cara-cara Rasulullah saw dalam membaca Al Qur’an. Beliau senantiasa membaca Al Qur’an dengan tartil, tidak terburu-buru, bahkan sebaliknya dengan memperjelas huruf per huruf dan menghentikan bacaan se-ayat demi se-ayat. Apa yang dilakukan Rasulullah saw adalah dalam rangka melaksanakan firman Allah swt: “Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al Muzammil: 4)
 
Beliau selalu membaca Al Qur’an, baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, dalam keadaan berwudhu maupun berhadats. Manakala menemukan ayat-ayat doa, beliau berdoa, menemukan ayat-ayat istighfar beliau beristighfar, menemukan ayat-ayat sajdah beliau pun bersujud, atau ketika membaca ayat-ayat yang menyebutkan rahmat Allah, beliau serta merta memohonnya.
 
Membaca Al Qur’an seyogyanya dikerjakan pada siang maupun malam hari, saat bepergian maupun saat di rumah. Ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwasanya Rasulullah saw pernah berpesan kepada Abdullah bin ‘Amr hendaknya dia mengkhatamkan Al Qur’an seminggu sekali. Demikian waktu yang digunakan oleh sejumlah sahabat Rasulullah saw, seperti Utsman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, atau Ubay bin Ka’ab dalam mengkhatamkan Al Qur’an.
 
Sahabat Utsman ra biasanya memulai bacaannya pada malam Jumat dari Al Baqarah hingga Al Maidah, malam Sabtu dari Al An’am hingga Hud, malam Ahad dari Yusuf hingga Maryam, malam Senin dari Thaa Haa sampai Al Qashash, malam Selasa dari Al ‘Ankabut sampai Shaad, malam Rabu dari Az Zumar sampai Ar Rahman, dan malam Kamis ia sempurnakan hingga khatam. Wallahu a’lam bissawab.


KOMENTAR
ajxload

KIRIM KOMENTAR
FACEBOOK

TWITTER